Kali ini, saya ingin bercerita tentang sosok yang sudah banyak berjasa dalam perjalanan hidupku. Sosok yang sewaktu kecil kutakuti, sewaktu dewasa kujadikan sahabat. Di setiap tetes keringatnya terkandung pengorbanan untuk anak-anaknya tercinta. Yah, kali ini saya ingin sedikit bercerita tentang sosok papa, sosok yang selalu kukagumi dengan segala kekurangan dan kelebihannya. Bagaimanapun beliau adalah pahlawan dalam keluarga kami.
Saat tulisan ini kubuat, saya sedang berada di atas rumah kayu yang berbentuk panggung. Mengapa dikatakan rumah panggung, karena mungkin bentuknya seperti panggung, disanggah oleh banyak tiang, membuat rumah yang terbuat dari kayu ini tahan dari goncangan angin. Sebenarnya kami tinggal di rumah batu yang cukup luas, namun beberapa bulan yang lalu papa menyambungkan rumah batu kami dengan rumah kayu ini dan jadilah ruangan ini menjadi favoritku. Aku menyebut ruangan ini ruangan serbaguna, karena di ruangan inilah papa menyelesaikan laporan2 kantor, tempat saya membaca, belajar, beribadah. Dan karena ruangan ini bersambung dengan dapur, kami sekeluarga sering makan bersama di ruangan ini. Yap.. Atas ide dari ibu dan eksekusi yang pas dari papa, maka ruang serbaguna ini pun dibuat. Bukan dibuat dengan menyewa tukang, tapi dibuat oleh papa seorang diri. Mulai dari mengamplas papan, menggergaji kayu semua dikerjakan seorang diri. Papa memang dikenal serbabisa. Menjadi tukang kayu, tukang batu, pedagang telur, peternak ayam, petani, koki semua bisa dilakoni oleh papa yang pekerjaan utamanya adalah kepala sekolah disebuah daerah terpencil.
Saya beruntung punya papa seperti beliau. Meski kami sering berbeda paham, utamanya dalam hal pemahaman ilmu agama tapi itu tak mengurangi sedikitpun rasa cinta saya kepada beliu. Teringat di masa kecil ketika itu saya yang masih duduk di bangku SD sepulang sekolah ikut membantu ayah ke kebun memetik buah kakao untuk kemudian dijual kepada pedagang besar. Disitu saya melihat bagaimana susahnya papa hidup mencari sekeping uang. Papa harus memikul beban dipundaknya ketika kami harus pulang dengan membawa kakao yang telah dipetik. Dan ketika sudah dijual, tak serupiah pun masuk ke kantong papa. Semua diserahkan kepada ibu, untuk anak-anak katanya. :')
Dan saat saya menulis ini, papa sedang berada tepat di bawah kolong rumah panggung ini. Beliau sedang memasak buah merica yang dipetik dari kebun tadi sore. Merica-merica itu kemudia akan dicuci dan dijemur untuk kemudian dijual pada pedagang besar. Tidak banyak hasilnya. Tapi cukup untuk tambahan uang keperluan dapur. Ini yang kemudian terkadang membuat saya agak sedikit tersentil jika harus membuang-buang duit terlalu banyak ketika berbelanja mengingat bahwa mencari sekeping uang itu butuh perjuangan.
Di usia beliau yang ke-52 tahun tepat di bulan ini menyadarkan saya bahwa diusianya yang semakin senja, di kala rambut beliau perlahan memutih, saya belum sanggup berbuat apa-apa. Belum mampu membalas jasa dan peluh keringatnya. Hanya doa yang sanggup kukirim dari lubuk hati terdalam agar Allah senantiasa memberikan beliau kesehatan dan kekuatan.
Tengkyu papa for everything. :')
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO
