TOPO MAP LOVE CAKE

Senin, 08 Desember 2014

Pas liburan kemarin, bapak saya request dibikinkan kue. Katanya beliau mau bawa untuk teman-teman ngajarnya di sekolah, Ibuk saya juga nggak mau kalah, beliau juga mau bawa buat temen ngajarnya di sekolah. Maka, duet maut di dapur pun dimulai. Saya dan ibu pasti selalu semangat kalau mau bikin kue. Setelah searching dan brwosing resep, akhirnya saya nemu Topo Map Love Cake di blognya ummufatimah . Ini pilihan ibu, beliau tertarik melihat warna dan pola Map nya yang cantik. Berikut bahan dan cara membuatnya 
Bahan :
240gr tepung terigu protein sedang + 3/4 sdt baking powder
200 gr margarin 
200 gr gula halus
4 butir telur
65 ml susu cair
10 gr tepung maizena
1/2 sdt vanili (ummi: skip)
1 sdt pasta pandan (ummi: skip)
1 tetes pewarna hijau
coklat bubuk untuk taburan


Cara Membuat :
  • Panaskan oven 180 deg C (ummi: pakai microwave oven 160 deg C). Siapkan loyang persegi 18cm. Oles mentega dan taburi tepung terigu.
  • Kocok margarin, dan gula halus sampai mengembang dan pucat. Masukkan telur satu persatu sambil dikocok hingga rata.
  •  Tambahkan separuh bagian terigu dan maizena, kocok dg mikser kecepatan rendah.
  • Masukkan susu cair. kocok rata. Berikut masukkan sisa tepung dan kocok asal rata.Bagi dua adonan. yang satu biarkan plain dan yang satu ditambahkan pewarna hijau. Aduk asal rata.
  • Tuang separuh adonan putih ke loyang, ratakan. Ayak coklat bubuk sampai seluruh permukaan tertutup coklat. Tuang adonan hijau lalu ratakan. Beri ayakan coklat bubuk lagi. Tuang sisa adonan putih tadi, ratakan. Tidak perlu diberi ayakan coklat bubuk.
  • Terakhir sebelum dimasukkan oven, hentakkan loyang perlahan agar gelembung udara yang terperangkap dalam kue bisa keluar.
  • Oven sekitar 45 menit (ummi: 30-40 menit) atau hingga matang. (Lakukan tes tusuk).

Saya sama ibu bikin dua buah, satunya dibawa ibu ke sekolah satunya lagi dibawah bapak, alhamdulillah kata bapak testimoni temen-temennya, kuenya enak. J




Semangat Baking...


                Jadi ceritanya setiap selesai satu bagian di rumah sakit, saya selalu ngambil libur atau terkadang memang terpaksa libur karena permasalahan tekhnis. Nah, liburan singkat begini sering saya pakai untuk mudik. Seperti minggu lalu, setelah selesai di bagian Mata, saya ngambil libur 2 minggu sebelum masuk ke bagian Bedah. Liburan seperti ini selalu saya manfaatkan untuk quality time dengan keluarga. Kalau dengan ibu, sudah pasti kami baking bareng. Ibu saya itu sedari dulu suka banget bikin kue, jaman-jaman saya SD dulu, saya inget banget laci-laci lemari ibu full dengan buku yang isinya tentang resep kue, yang ditulis dengan tangan sendiri, trus tiap menjelang lebaran pasti ibu selalu ikut kursus kue. Saking hobbynya ibu bikin kue, saat lagi sakit, saya nunjukin beberapa resep kue yang saya dapat dari internet, eh beliau langsung sehat, langsung ngajak saya praktekin resep-resep itu, hehhe. Dan hobby ibu kayaknya semakin menular kepada kedua putrinya, saya dan kakak saya. Saya sebenarnya dulu lebih suka masak-masak daripada baking, karena masak-masak itu nggak perlu keahlian khusus, tinggal cemplung-cemplungin aja trus mainin bumbu. Beda dengan kakak saya yang memang sejak awal lebih seneng baking. Nah, tapi beberapa bulan terakhir saya teracuni oleh mereka, saya seperti tertantang untuk selalu baking. Namanya belajar ya masih sering salah-salah, kadang putih telurnya nggak ngembang, kadang kuenya bantat, yang lebih parah pernah lupa nurunin telor ke adonan padahal udah sampai step menuang ke loyang. Tapi disitulah seninya baking dan orang yang sering memotivasi saya adalah bapak saya sendiri “kan kalau mau berhasil, kadang harus dihabiskan dulu jatah gagalnya” katanya (peluk bapak).
                Kemarin waktu jalan-jalan ke toko peralatan rumah tangga, ibu membelikan saya sebuah mixer, beliau bilang supaya saya semakin rajin baking meskipun tinggal dikosan, kalau perlu tiap hari bikin kue (yekali bu’ kalau bikin kue nggak perlu modal duit, saya pasti bikin tiap hari). Sebenarnya memang seringkali kalau ada uang bulanan lebih, pengen bikin kue tapi peralatan di kos nggak memadai, jadi ya harus tunggu libur dulu saat pulang kampung. Dan beberapa hari berikutnya, bapak menghadiahkan anaknya ini sebuah oven listrik, sepertinya bapak mau saya kelak jadi dokter yang jago baking juga, heheh. Jadilah kosan saya terkesan mewah, ada mixer ada oven listrik, lengkap sudah tinggal semangat bakingnya yang harus tetap dijaga.
                Yang terakhir, semoga ditengah kesibukan saya di rumah sakit yang jarang pulang ke kos karena dipadatkan dengan jadwal dinas, jaga, dinas, jaga, tugas, ujian, tugas, ujian semoga saya bisa tetap menyalurkan hobby yang satu ini, paling tidak sebulan dua kali lah, yah supaya mixer dan ovennya nggak nganggur-nganggur amat. Semangat bakingnya harus tetap dijaga, kalau gagal dijadikan pelajaran, kalau sukses alhamdulillah. I havea dream, suatu saat bisa punya toko kue dan punya brand sendiri. Aamiin


Koass Radiologi

Sabtu, 31 Agustus 2013

Dari beberapa bagian yang telah saya lewati, mungkin bagian radiologi ini adalah salah satu bagian yang berkesan. Bukan karena banyak hal menarik pada bagian ini, justru katanya bagian ini adalah bagian paling membosankan. Bagian ini menjadi bagian yang berkesan diantara bagian yang telah saya lewati karena saya masuk bagian ini benar-benar sebagai kertas kosong. Saya sama sekali tidak punya dasar tentang radiologi ini. Untuk membedakan radiolusen dan radiopak saja masih suka kebalik. Maklum, semasa kuliah dulu saya jarang sekali bahkan nggak pernah mendapat materi tentang ini.


Minggu pertama di bagian ini, jujur rasanya disorientasi banget. Untunglah setiap hari ada materi bimbingan dari residen, jadi kayak mulai lagi dari awal. Diberi materi dasar-dasar radiology sampai tingkatan paling atas. Semasa kuliah saya nggak tau colon in loop itu apa, cuma sekedar baca tapi nggak tau kayak gimana kerjanya, baca fotonya kayak gimana. Alhamdulillah 3 minggu di bagian ini, saya benar-benar kejar target bagaimana caranya agar kertas kosong di otak saya bisa terisi dengan baik. Minggu pertama, kalau ada waktu kosong pasti saya akan ke ruang pembacaan foto, bertanya jika ada yang nggak dipahami. Beruntung residen di bagian ini baik-baik banget, ketika kita bertanya dengan senang hati akan dijelaskan. Setidaknya minggu pertama saya sudah bisa membedakan yang mana foto thorax normal yang mana yang ada kelainan. Setidaknya kertas kosong ini sudah mulai tercoreti.

Salah satu hal yang berkesan selama di bagian ini adalah, pas di minggu saya masuk radiologi, sistemnya berubah drastis. Kalau dulu, tugasnya berupa pembuatan referat, sekarang tugasnya membuat laporan kasus. kalau dulunya nggak ada istilah "jaga" sekarang ada yang namanya jaga sampai jam 9 malam. Awalnya sih rada berat ya, masa di bagian ini ada jaganya juga. Ternyata luar biasa bermanfaat loh, karena ternyata tujuan jaga ini adalah untuk mengajari kami cara baca foto yang benar. Jadi selama jaga, tugas kami mendampingi residen dan pasti dibimbing, jadi bukan untuk disuruh-suruh. Saya sih kalau jaganya kayak gini sampai pagi pun sanggup. Apalagi pas giliran saya jaga itu, konsulen yang jaga adalah konsulen yang paling dewa, kami ditraktir dan diputarkan lagu-lagu penyemangat, walaupun lagunya lagu tempo dulu ya.. haha

Diakhir minggu dua, kertas kosong itu sudah terisi banyak catatan. Kalau dulu gambaran efusi pleura aja nggak tau, Alhamdulillah sekarang jadi tau gambarannya. Sekarang insyaAllah ketika melihat foto thorax sudah bisa melihat kelainannya apakah TB (aktif atau inaktif), Pneumonia, Atelektasis, Emfisema, Pneumothorax, Pneumoperitoneum, dan lainnya. Selain itu sekarang saya jadi tau cara pemeriksaan colon in loop, pemeriksaan HSG, IVP-BNO serta bagaimana menginterpretasikan fotonya. InsyaAllah jauh lebih tau dibanding 2 minggu sebelumnya.

Dan tiba saatnya minggu 3 adalah exam week. Saat dimana kita lagi GG (Gaduh Gelisah) terhadap ujian. Hari senin di minggu 3 diisi dengan presentasi laporan kasus, alhamdulillah berjalan lancar. Hari Rabu kami ujian foto. Malam rabu saya nginap di rumah teman belajar baca foto sampai jam 2 pagi. Hari rabu pagi sebelum jam 7 kami tiba di Rumah Sakit dan Alhamdulillah belajar selama 3 minggu tidak sia-sia. Jadi soal ujian hari itu ada 10 nomor. Setiap nomor terdiri dari 4 poin pertanyaan, jadi di layar ada 1 foto dan setiap 5 menit kita diminta pindah ke meja berikutnya mengamati foto selanjutnya. Saya ingat banget soal nomor satu itu kesannya pneumothorax, meja 2 itu Pneumoperitoneum, yang ketiga TB duplex lama aktif, yang keempat Cardiomegaly, yang kelima Spondylosis, yang keenam Atelektasis, yang ketujuh Efusi pleura, yang ke delapan Bronkiektasis, yang kesembilan Nephrolitiasis dan yang kesepuluh adalah fraktur kominutif 1/3 distal os tibia fibula sinistra. Saat ujian selesai, soalnya dibahas kembali dan alhamdulillah jawaban saya benar semua. Alhamdulillah ternyata kertas kosong itu kini nggak sekosong dahulu. Alhamdulillah

Tapi tadi pas ujian konsulen di depan dokter, ada satu foto yang sama sekali nggak bisa saya baca padahal itu adalah pneumothorax. Itu pertama kalinya saya melihat gambaran pneumothorax yang seperti itu, ntah saya yang ngeblank atau gimana. Tapi dalam hati kecil saya berbicara bahwa selama 3 minggu di bagian ini sudah banyak sekali yang saya dapatkan dan itu sudah jauh dari cukup. Apa jadinya kelak saya jadi dokter terus tidak tau cara baca foto x ray. Walaupun satu nomor itu tidak saya ketahui, tapi saya akan terus belajar, meskipun saya telah selesai di bagian ini insyaAllah ilmunya akan terus saya update dan akan terus saya pergunakan terutama saat di bagian bedah nanti. Alhamdulillah ya Allah bagian ini sangat menyenangkan, meskipun tiap hari hanya melihat hitam dan putih tapi sesungguhnya berada di bagian ini penuh warna. Thanks for my beloved team, walaupun baru kenal tapi mereka baiknya luar biasa.

Diakhir, saya akan menampilkan foto thorax dari pneumothorax. Saya nggak akan pernah lupa gambaran ini. Tadi saya salah karena nggak jeli mengamati gambaran hiperlusen avaskular. InsyaAllah berikutnya nggak lagi. :)
Semoga ilmu selama di radiologi ini berkah. Aamiin ya Allah

Postingan melow

Jumat, 30 Agustus 2013

#NowPlaying Maher Zain- So soon

Malam ini 23.00 harusnya ini jadwalnya belajar buat ujian besok, but I dunno why, malam ini saya melow banget, bawaannya pengen nangis.

Buka-buka fesbuk lama dan menemukan banyak serpihan-serpihan masa lalu yang saya tinggalkan dengan berantakan. Ingin kembali merapikan, namun sepertinya sudah terlambat. Tapi kan katanya hidup harus berjalan terus ke depan, jangan terus-terusan melihat ke belakang..

Seperti kata Maher Zain "I've got to stop the tears, keep my faith and be strong!"

Menjadi yang terbaik versi saya sendiri

Jumat, 26 Juli 2013

Prinsip hidupku kini berubah, kalau dulu saya adalah orang yang ambisius dengan ego yang tinggi, sekarang saya merubah semua itu. Saat ini, saya hanya ingin menjadi yang terbaik versi diri saya sendiri. Saya bukan lagi ingin melakukan sesuatu karena ingin bersaing dengan si ini atau si itu. Saya ingin berprestasi bukan karena saya ingin dipuji begini dan begitu. Saya hanya ingin menjadi yang terbaik versi diri saya sendiri tanpa melihat ada embel-embel di belakangnya.

Saya baru saja belajar sebulan terakhir dan hasilnya memang sungguh luar biasa. Saya yang biasanya egois, pelan-pelan belajar untuk tidak egois. saya yang biasanya pelit, mulai belajar untuk memberikan semaksimal yang saya bisa. Saya yang dulunya dengki, kini mulai bisa berlapang hati melihat keberhasilan orang lain. Kini saya menyadari bahwa semua ada jalannya, semua sudah digariskan, sehingga tak ada yang perlu dirisaukan. 

kehilangan handphone

Rabu, 22 Mei 2013

Hari ini saya kehilangan hp blackberry yang baru sekitar 4 bulan saya miliki. Kronologi kejadiannya tidak begitu saya ingat, yang jelas tadi sore di angkot saya masih memakai hp tersebut dan saya merasa bahwa saya mengembalikannya ke dalam tas. Ternyata keliru, karena setiba di kos saya tidak mendapatkan hp  di dalam tas.

Reaksi awal saya biasa saja, mencoba tenang dan berpikir positif. Kemudian berintrospeksi diri bahwa akhir-akhir ini saya memang jarang bersedekah, terkadang niatan bersedekah itu ada tetapi tidak terealisasi. Mungkin lewat kejadian ini, Allah mengingatkan saya untuk selalu ingat bersedekah baik itu di kalah susah terlebih di saat senang. 

Saya berdoa pada Allah, jika hp blackberry itu baik bagi saya maka saya memohon dikembalikan, tapi jika ternyata tidak maka saya akan berusaha mengikhlaskannya. Saya selalu percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti ada alasannya "everything happen for a reason". Termasuk kehilangan hp ini, saya jadi mengintrospeksi diri untuk bisa menjadi lebih dermawan serta saya yakin bahwa Allah akan menggantikan dengan yang lebih baik.

Saya sadar selama ini, waktu saya terbuang banyak karena blackberry, ini harus saya instrospeksi. Ada banyak hikmah dibalik setiap musibah. Saya senang karena Allah masih menegur saya di dunia. Saya tidak boleh marah jika hp ini hilang karena sesungguhnya ini adalah hak-Nya dan saya hanya dititipi oleh-Nya. Tidak ada yang kekal di dunia ini. 

Sebenarnya hp ini sudah pernah hilang sebelumnya, tapi alhamdulillah waktu itu ditemukan oleh seorang tukang becak-motor yang juga penyandang tunawicara. Tapi dengan segala keterbatasan fisiknya, bapak ini punya hati yang jujur yang mungkin mengalahkan orang-orang normal. Hp yang hilang itu kembali utuh ke tangan saya. Waktu itu Allah juga mengajarkan saya tentang arti kejujuran dan pentingnya untuk terus bersyukur.

Saya berdoa, agar orang yang menemukan hp ini dibukakan pintu hidayah dan hatinya untuk berbuat jujur. Kalaupun tidak dikembalikan, semoga hp saya digunakan untuk hal-hal baik Saya yakin, jika itu masih rejeki maka insyaAllah akan kembali ke tangan saya. Aamiin


Rasa Ini

Senin, 06 Mei 2013

Selalu saja rasa itu hadir, sebuah rasa yang tak pernah bisa kujelaskan. Jangan salah paham, karena saya tidak sedang bicara tentang rasa cinta. Di sini saya bicara tentang sebuah rasa, yang terkadang aku hanya menyebutnya rasa tak enak. Seandainya ia bisa dicicipi mungkin rasanya pahit, andaikata baunya bisa dicium mungkin bau busuk. Rasa yang tak bisa aku jelaskan ini selalu dan selalu datang walau sudah sekuat hati aku menghalaunya. Ketika rasa ini datang maka aku akan segera memalingkan pikiranku, sekedar mencari hiburan atau membuat kesibukan lain. Yang jelas, ketika rasa itu datang, rasanya aku tak sanggup hidup di hari esok.

Andai saja bisa kujelaskan rasa apa ini, tentulah aku bisa sedikit lebih lega. Sebuah rasa yang tak kutau mencari dimana solusi pemecahannya. Hany sebuah rasa yang sebenarnya tak penting untuk dirisaukan. Tapi selalu saja, rasa itu datang menghancurkan pertahananku. Apakah rasa itu tentang sebuah ketakutan? bisa kusebut iya namun bisa juga tidak, ataukah tentang sebuah rasa kecewa? bisa iya bisa juga tidak, lalu apa? ataukah sebuah rasa yang merupakan akumulasi dari berbagai rasa yang ada? aku tak mengerti di sini gelap.

Lantas lewat apa rasa ini bisa kujabarkan jika lewat tulisan inipun aku tak mampu menjelaskannya. Jika itu hany sebuah rasa yang tak penting, lantas mengapa harus dirisaukan. Tapi bagaimana jika kubilang kalau rasa itu adalah sebuah bentuk kerisauan? Segala sesuatu yang berhasil membuat kita risau bukankah itu sebuah hal yang penting. Tapi jika aku salah menafsirkan bahwa rasa ini adalah sebuah kerisauan,  lalu kusebut apa rasa ini?