Halo, kesempatan kali ini saya akan mereview sebuah Novel Anak-anak yang sayang sekali kalau nggak dibaca. Berikut adalah hasil review saya tentang buku ini. Selamat membaca! :)Buku ini merupakan salah satu dari empat novel serial Anak-Anak Mamak karya Tere Liye. Sebuah novel yang banyak memberikan nilai-nilai moral khususnya tentang kebaikan, kasih-sayang, kejujuran, kekeluargaan dan kesederhanaan yang dibungkus dengan kepolosan, kenakalan, kecerdasan dan keterbatasan anak-anak. Buku ini memuat cerita tentang kisah Mamak dengan anak-anaknya dimana Pukat menjadi tokoh utama. Ada bagian dari novel ini yang membuat kita tersenyum karena kecerdikan dan kepolosannya serta kagum karena kesederhaan dan rasa ingin tahu yang begitu tinggi. Adapula bagian dari novel ini yang membuat kita terharu akan cinta kasih seorang ibu. kepada anaknya.
Ia adalah seorang anak umur 9 tahun. Pukat
namanya. Ia merupakan anak yang cerdik. Kecerdikannya digunakan ketika suatu
hari ia beserta ayah dan adiknya berada di kereta api dalam perjalanan menuju
ke rumah pamannya. Ketika kereta yang mereka tumpangi melewati sebuah terowongan
gelap, kawanan perampok menjarah barang-barang penumpang. Ditengah suasana
gelap nan mencekam itu, pukat menggunakan akal cerdiknya. Saat kawanan perampok
itu tepat berada di dekatnya hendak menjarah barang-barang mereka, Pukat dengan
sigap menaburkan bubuk kopi ke atas sepatu perampok itu. Saat tiba di stasiun,
mereka melaporkan kejadian ini pada polisi. Tentu saja petugas kepolisian
dengan mudah menemukan pelaku karena sebelumnya Pukat telah membuat jejak tak
terbantahkan pada sepatu perampok itu.
Hari-hari
Pukat banyak diisi dengan bermain
bersama teman-temannya. Seperti anak desa kebanyakan, mereka senang
bermain di alam seperti misalnya berenang di sungai. Ia memiliki seorang
teman akrab yang
bernama Raju. Mereka berdua sempat bertengkar dan tidak bertegur sapa
selama 2
bulan karena sebuah persoalan sepele. Tapi, bukan anak-anak namanya jika
berselisih lama-lama. Merekapun berbaikan saat tiba-tiba mereka berdua
bersama mengambil makanan yang terhidang di meja pada
sebuah pesta.
Nilai
kejujuran disampaikan dalam buku ini lewat
bab “Kaleng Kejujuran”. Di kantin sekolah ada sebuah kaleng kejujuran
yang juga
merupakan ide dari seorang Pukat. Jadi, makanan yang ada di kantin
dijual tanpa penjaga, jika mau membeli uangnya diimasukkan sendiri dalam
kaleng itu. lewat kaleng kejujuran ini, Pukat dan teman-temannya
belajar untuk berlaku jujur. Rasa ingin tau yang tinggi, juga dimiliki
oleh Pukat yang membuatnya bertanya banyak hal. Termasuk sangat
penasaran dengan sebuah teka teki
yang diberikan oleh Wak Yati, “Apa harta karun di kampung kita ini
pukat?”.
Sudah banyak jawaban dilontarkan Pukat tapi tak satupun yang benar.
Bertahun-tahun ia mencari
jawabannya tapi tak kunjung ketemu.
Cerita
yang paling berkesan dalam buku ini adalah
ketika suatu hari Pukat melanggar larangan Mamaknya untuk tidak pulang
lebih
awal dari ladang. Hal ini menyebabkan Pukat dihukum oleh Mamak tidak
makan
malam dan disuruh tidur di teras rumah. Mamak sangat tegas dan disiplin
pada Pukat. Hukuman ini membuat Pukat sangat marah dan benci pada Mamaknya.
Efek
dari hukuman ini, Pukat jatuh sakit dan demam berhari-berhari. Saat
sakit ini, Mamak menunggui pukat berhari-hari bahkan sampai begadang
mencemaskan kesehatan
Pukat. Hal ini membuat pukat sadar bahwa sesungguhnya Mamak sangat
menyayangi
dirinya.
Dan benar kata Bapaknya bahwa
Dan benar kata Bapaknya bahwa
Jangan pernah membenci Mamak kau, jangan sekali-kali, karena jika kau tau sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kau, Amelia, Burlian dan Ayuk Eli, maka kau tau sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta. serta rasa sayangnya kepada kalian
Sosok
Mamak dalam buku ini sangat disiplin dan
tegas, namun penuh kasih sayang. Hanya saja terkadang, Pukat dan
saudara-saudaranya menyalahartikan sikap tegas Mamak dengan menganggap
bahwa Mamak
membenci mereka. Seperti misalnya saat pagi hari sebelum berangkat
sekolah, Mamak akan memaksa mereka menghabiskan nasi meskipun lauknya
hanya kecap asin.
Belakangan mereka baru paham betapa berartinya setiap bulir nasi setelah
mereka
di ajak oleh Mamak membuka lahan dan menanam padi. Mamak juga sosok yang
sangat
anti terhadap perbuatan gibah atau membicarakan kejelekan orang lain.
Mulut
orang yang membicarakan kejelekan orang lain diumpamakan sebagai pipa
pembuangan terkotor seperti yang diceritakan di bab 19 dan 20. Meskipun
dibesarkan dalam kesederhanaan, keterbatasan, berbaur dengan kepolosan dan
kenakalan., Mamak selalu menanamkan arti kerja keras, kejujuran, harga diri
serta perangai tidak tercela. Dan di sini, kasih saying keluarga adalah segalanya.
Di akhir cerita, 14 tahun kemudian, Pukat yang
mendapat kesempatan belajar di Negara Kincir Angin menyempatkan diri untuk pulang
ke kampung halamannya. Belajar di Luar Negeri adalah cita-citanya sejak kecil. Saat
pulang itu pula ia tau jawaban dari
teka-teka Wak Yati bahwa sesungguhnya harta karun paling berharga di kampungnya
adalah mereka anak-anak kampong itu. Anak-anak yang dibesarkan oleh kebijaksanaan
alam, dididik langsung oleh kesederhanaan kampung.
Buku
ini membuat kita terlarut dalam dunia anak-anak
yang terkadang tidak pernah terbayangkan oleh kita. Gaya bahasa Tere
Liye yang selalu mengena, menasehati secara halus tanpa menggurui
tertuang dalam setiap bukunya termasuk yang satu ini. Hanya saja
beberapa kalimat
menggunakan bahasa melayu sehingga terkadang sulit dicerna. Namun, di
atas
semua itu, buku ini sangat layak dibaca khususnya anak-anak. Buku ini
layak banget idkoleksi sebagai bacaan keluarga.
Judul buku : Pukat “Serial Anak-anak Mamak”
Judul buku : Pukat “Serial Anak-anak Mamak”
Pengarang : Tere Liye
Penerbit : Republika
Terbit :
Maret 2010
Tebal :
vi + 351 halaman
Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

