Memaafkan adalah sikap yang mulia. Semua agama menganjurkan untuk saling memaafkan. Bila mengacu ke ajaran Islam, memaafkan tidak saja sebagai sikap mulia, tapi juga merupakan kewajiban. untuk banyak hal. Islam sebagai agama rahmat bagi seluruh alam mendorong pemeluknya agar memiliki sifat pemaaf betapapun beratnya. Nabi Muhammad SAW mencontohkan betapa beliau berkali-kali dihujat, dihina, bahkan disakiti. Tetapi bukan dendam dan amarah yang membakar perasaan beliau. Yang keluar dari jiwa beliau justru untaian doa agar orang-orang yang menyakiti itu dibukakan hatinya oleh Allah. Beliau bahkan malah menjenguk menyapa dengan keindahan budi tatkala orang yang menyakitinya tengah terbaring sakit.Al-Quran dengan gamblang menjelaskan;
“…dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. An Nuur, 24:22).
Sekarang telah banyak penelitian yang dilakukan untuk meneliti tentang pentingnya anjuran memaafkan tersebut, bukan hanya dari segi agama tapi juga dari berbagai bidang. "Forgiveness research" atau penelitian tentang perilaku memaafkan termasuk bidang yang kini banyak diteliti ilmuwan di sejumlah bidang keilmuan seperti kedokteran, psikologi dan kesehatan. Hal ini karena sikap memaafkan ternyata memiliki pengaruh terhadap kesehatan jiwa raga, maupun hubungan antar-manusia.
Ada beberapa penelitian tentang efek positif dari sebuah pemaafan. Di anataranya yang terkemuka adalah Stanford Forgiveness Project yang diketuai Dr. Fred Lushkin. Kita dapat membaca laman Forgiveness for Good yang dia pimpin antara lain :
- Telah dilakukan penelitian yang mencoba mencari hubungan antara pelatihan memaafkan (forgiveness training) dan tekanan darah tinggi (Hioertensi). Dipilih 25 partisipan secara acak dilakukan intervensi berupa pelatihan memaafkan selama 8 minggu. Hasilnya: sebagian besar partisipan mengalami penurunan tekanan darah dan meredanya amarah.
- Juga dilakukan penelitian kohort yang melibatkan 259 partisipan. Intervention group diberikan pelatihan selama 6 minggu tentang memaafkan dengan metode Dr.Lushkin dari standford. Hasil penelitian menunjukkan bahwa forgiveness training dapat efektif menururunkan penggunaan kemarahan sebagai cara untuk mengahadapi stres, menurunkan perasaan stres (perceived stress) dan gejala-gejala fisik (physical health symtoms) dari stres.
- Mahasiswa Universitas Stanford berjumlah 55 orang dipilih sebagai partisipan untuk melihat hubungan forgiveness training dengan perilaku marah mereka.
Bernie Siegel dalam karya best sellernya yang berjudul Love, Medicine and Miracles mengajukan sebuah bukti meyakinkan. Sebagaimana ia tulis secara amat percaya diri di halaman 202 bukunya, siegel telah mengoleksi 57 kasus keajaiban kanker. Di mana ke lima puluh tujuh orang ini sudah positif terkena kanker, dan begitu mereka menghentikan secara total dan radikal kebencian, depresinya menurun drastis, dan yang paling penting tumornya mulai menyusut. Sebagai kesimpulan, siegel menulis : "when you give love, you receive it at the same time. And letting go of the past and forgiving everyone and everything sure helps you not to be afraid". ketika anda memberi maaf, Anda juga menerimanya pada saat yang sama. Kemudian kesediaan untuk melepas masa lalu dengan cara memaafkan, secara meyakinkan membantu Anda keluar dari kekhawatiran.
Penelitian terakhir yang dipublikasikan oleh The Christian Science Monitor, sifat memaafkan ternyata memiliki kekuatan luar biasa yang dapat membantu proses penyembuhan suatu penyakit. Dalam penelitiannya, Herbert Benson, Presiden dari Harvard's Mind and Body Medical Institute menemukan adanya tingkat depresi yang relatif rendah pada orang-orang yang memiliki sifat pemaaf. Pada mereka pula ditemukan rasa percaya diri tinggi dan daya tahan tubuh yang lebih kuat."Kemauan yang kuat untuk memaafkan kesalahan diri sendiri dan orang lain dapat mengurangi kegusaran dalam dada yang sekaligus bermanfaat untuk menghilangkan stres," ujar Benson. Ia juga menambahkan, sifat memaafkan sangat membantu dalam upaya penyembuhan segala macam penyakit serius dalam diri kita sebesar 60 sampai 90 persen. Itulah seharusnya para dokter atau therapist selalu memberikan anjuran 'memaafkan' sebagai pengobatan dasar bagi para pasiennya
Semua penelitian yang ada menunjukkan bahwa kemarahan adalah sebuah keadaan pikiran yang sangat merusak kesehatan manusia. Memaafkan, di sisi lain, meskipun terasa berat, terasa membahagiakan, satu bagian dari akhlak terpuji, yang menghilangkan segala dampak merusak dari kemarahan, dan membantu orang tersebut menikmati hidup yang sehat, baik secara lahir maupun batin. Namun, tujuan sebenarnya dari memaafkan –sebagaimana segala sesuatu lainnya – haruslah untuk mendapatkan ridha Allah. Kenyataan bahwa sifat-sifat akhlak seperti ini, dan bahwa manfaatnya telah dibuktikan secara ilmiah, telah dinyatakan dalam banyak ayat Al Qur’an, adalah satu saja dari banyak sumber kearifan yang dikandungnya.
Pengaruh memaafkan terhadap kesehatan fisik
Orang yang memendam amarah atau dendam terdapat proses dalam otaknya yaitu amigdala memberikan sinyal yang merangsang tubuh untuk membuat debar jantung semakin kencang, terjadi banjir adrenalin, dan membuat hormon stres lainnya mengalir deras memasuki aliran darah.Adrenalin itu, menurut penelitian belum lama ini yang dilakukan oleh Dr.Jim McGaugh dari universitas California-Irvine, menciptakan kenangan yang lebih kuat dalam otak daripada yang dilakukan oleh hormon keriangan. Ini berarti pengalaman mengerikan "digalakkan berlebihan secara kimiawi" untuk tetap melekat pada diri kita untuk waktu yang lebih lama daripada penglaman yang menggembirakan.
Apabila amigdala sangat aktif, jalur saraf negatif di otak kita melebar. pikiran kita sarat oleh pikiran negatif, dan kita cemas, terus-menerus membayangkan kejadian yang tidak kita inginkan terjadi, menciptakan kegelisahan dan perasaan tidak bahagia dalam hidup kita. kita menghantui diri sendiri dengan cerita-cerita dari Keyakinan lama dan Membandel.
Dr.Luskin mengatakan : kemarahan yang berkepanjangan atau tidak terselesaikan adalah sepertti kita men-set thermostat (alat untuk mengatus suhu--seperti yang ada pada alat pendingin atau AC) yang ada di dalam tubuh kita. Apabila kita biasa dengan tingkat kemarahan yang rendah sepanjang waktu, maka tubuh kita akan normal. kemarahan tadi menyebabkan terjadinya aliran adrenalin terus-menerus. Dan orang ini akan terbiasa secara fisik terhadap keadaan ini. aliran adrenalin yang terus-menerus ini membakar tubuh kita. yang mengakibatkan kesulitan dalam berfikir jernih.
Para peneliti percaya bahwa pelepasan hormon stres, kebutuhan oksigen yang meningkat oleh sel-sel otot jantung, dan kekentalan yang bertambah dari keeping-keping darah, yang memicu pembekuan darah menjelaskan bagaimana kemarahan meningkatkan peluang terjadinya serangan jantung. Ketika marah, detak jantung meningkat melebihi batas wajar, dan menyebabkan naiknya tekanan darah pada pembuluh nadi, dan oleh karenanya memperbesar kemungkinan terkena serangan jantung.
Taufik Pasiak dalam bukunya yang berjudul "manajemen kecerdasan" menguraikan bahwa beberapa penelitian di bidang psikoneuroimunologi telah menemukan bahwa kesulitan dalam hal maaf-memaafkan berkaitan erat dengan beberapa penyakit, seperti hipertensi, stroke, penyakit jantung, dan stres. Seorang yang sulit memaafkan biasanya memiliki serangkaian sifat lagi yang saling berkaitan erat. Ia bisa mudah marah, mudah bermusuhan, pendendam, dan sulit bekerja sama. Jika menjadi menahun, sifat-sifat ini dengan mudah menghancurkan tubuh manusia melalui mekanisme yang disebut HPA (Hypothalamus-Pituitary-Adrenal) axix. Mater kelenjar hipotalamus ini akan bereaksi terus-menerus mempengaruhi kelenjar hipofise yang terletak di bagian tengah otak, dan akhirnya melalui pelepasan, sejumlah hormon mempengaruhi kelanjar anak ginjal (adrenal). mekanisme ini merupakan alat untuk membentuk hubungan tubuh (fisik) dan pikiran. Artinya, pikiran kita dapat mengontrol tubuh melalui aksis HPA ini.
Raut wajah, daya hantar kulit, dan detak jantung termasuk yang juga diteliti ilmuwan dalam kaitannya dengan sikap memaafkan. Sikap tidak memaafkan memiliki tingkat penegangan otot alis mata lebih tinggi, daya hantar kulit lebih tinggi dan tekanan darah lebih tinggi. Sebaliknya, sikap memaafkan meningkatkan pemulihan penyakit jantung dan pembuluh darah
Pengaruh Memaafkan Terhadap Kesehatn Jiwa
Selain kesehatan raga, orang yang memaafkan pihak yang mendzaliminya mengalami penurunan dalam hal mengingat-ingat peristiwa pahit tersebut. Dalam diri orang pemaaf, terjadi pula penurunan emosi kekesalan, rasa getir, benci, permusuhan, perasaan khawatir, marah dan depresi (murung).
Di samping itu, kajian ilmiah membuktikan bahwa memaafkan terkait erat dengan kemampuan orang dalam mengendalikan dirinya. Hilangnya pengendalian diri mengalami penurunan ketika orang memaafkan dan hal ini menghentikan dorongan untuk membalas dendam.
Dalam bukunya, Forgive for Good [Maafkanlah demi Kebaikan], Dr. Frederic Luskin menjelaskan sifat pemaaf sebagai resep yang telah terbukti bagi kesehatan dan kebahagiaan. Buku tersebut memaparkan bagaimana sifat pemaaf memicu terciptanya keadaan baik dalam pikiran seperti harapan, kesabaran dan percaya diri dengan mengurangi kemarahan, penderitaan, lemah semangat dan stres.
Jelaslah bahwa anjuran untuk memaafkan seperti yang telah difirmankan oleh ALLAH.SWT dalam Al Quran sangat bermanfaat bagi kita khususnya dalam kesehatan. Jadi, Kalau mau lebih sehat, belajarlah memaafkan dari sekarang dan jangan menyimpan amarah atau dendam dalam hati. Semoga kita semua bisa lebih dekat kepada-Nya dengan perilaku memaafkan.amin
Free Template Blogger
collection template
Hot Deals
SEO