Nilai yang tak bernilai

Minggu, 29 Mei 2011

Beberapa waktu yang lalu di akun facebook, saya membuat status seperti ini “Sesungguhnya ini hanyalah nilai yang tak bernilai”. Mungkin seperti mereka yang mengomentari status saya, anda juga bertanya apa maksud dari status ini.

Seingat saya, status ini saya buat tepat setelah pengumuman hasil ujian semester. Alhamdulillah nilai-nilai saya sangat memuaskan karena semua mata kuliah hasilnya lulus. Saya bukan tipe mahasiswa yang mengejar target IPK tententu karena bagi saya tidak penting dapat nilai A atau B yang pasti bisa lulus dan ilmunya dapat, itu saja sudah cukup. Beda dengan ketika masih SMA dulu, saya selalu terobsesi untuk mendapat nilai tinggi entah itu saya paham dengan pelajaran atau tidak, ntah itu dengan cara yang halal maupun tidak (red : nyontek).

Saya betul-betul merasakan ada banyak perbedaan antara cara belajar di SMA dengan di bangku kuliah. Dari yang tadinya belajar dengan cara menghafal kemudian berubah menjadi belajar dengan cara memahami. Dari yang tadinya belajar hanya untuk ujian kemudian berubah menjadi belajar untuk jadi tau dan nilai ujian adalah bonusnya. Alhasil, saya lebih mudah memahami apa yang saya pelajari dan bertahan lama di dalam memori. Beda dengan cara menghafal, mungkin hari ini masih ingat pelajaran sampai pada titik komanya, tapi setelah ujian bisa dipastikan ingatan itu kabur ntah kemana.

Lalu apa kaitannya dengan judul di atas? bisa dilihat kembali tulisan saya sebelumnya “…tapi setelah ujian bisa dipastikan ingatan itu kabur ntah kemana”. Nah, ini yang saya maksud, sebelum ujian kita pastinya udah capek-capek menghafal dong pake sistem SKS pula, nggak peduli kita ngerti atau tidak tetap aja berusaha untuk menghafal meskipun sebenarnya otak sudah overload. Dan kalau misalnya pas ujian ternyata kita belum juga bisa menjawab maka alternative lainnya adalah nyontek kanan kiri. Demi apa? Yaa apalagi kalau bukan demi nilai.

Saat pengumuman kelulusan sudah keluar, angka 10 atau nilai A sudah tersenyum manis kepada kita. Yang jadi pertanyaan kemudian? Masihkah kita ingat tentang materi-materi yang diujiankan kemarin? Ataukah ingatan tentang materi itu kini pergi tidak tau dimana rimbanya. Lalu jika demikian adanya masih pantaskah nilai 10 atau angka A ini kita dapat? Hmmm merka bilang ya pantas-pantas saja wong kita udah berusaha. Iya itu emang benar, tapi tidakkah kita menyadari bahwa nilai-nilai tersebut kini hanyalah sebuah nilai yang tak bernilai. Nilai-nilai itu kini tinggallah kenangan dan hiasan semata, tanpa tersimpan nilai pengetahuan atau nilai kejujuran di dalamnya. Banggakah kita dengan semua itu?

Untuk apa saya menghafal sesuatu yang tidak saya pahami? Untuk apa saya dapat nilai A atau 10 dari hasil nyontek? Inilah yang saya maksud nilai yang tak bernilai. Saya melihat-lihat kembali nilai rapor saat SD, SMP dan SMA. Jujur saya malu melihat angka 9 dan 10 yang terpampang di sana. Kalau saja nilai-nilai ini bisa ngomong pasti mereka akan bilang tidak seharusnya aku tertulis di sini. Kenapa saya harus malu padahal seharusnya bangga dong ya. Seandainya waktu itu saya belajar bukan cuma untuk nilai ujian, tentu saya akan bangga. Seandainya waktu itu saya nggak nyontek, tentu saja saya akan bangga.

Tapi saya nggak menyalahkan mereka yang dapat nilai tinggi dari ujiannya loh ya. Dapat nilai tinggi itu bagus dan malah membanggakan kalau itu memang diraih dengan menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran dan memang ilmunya juga dapat, maksudnya ilmu itu nggak sekedar numpang lewat di otak. Ilmunya dapat, pahala kejujurannya dapat, dan prestasinya dapat, bukankah itu suatu yang luar biasa?

Semasa masuk kuliah ini, saya merubah sistem belajar. Susah memang menerapkan ini semua apalagi di semester-semester awal. Teman-teman banyak yang mengira saya sombong karena nggak mau ngasih contekan ujian atau nggak mau diajak kerjasama saat ujian. Padahal prinsip inilah yang saya pegang. Saya nggak akan sungkan-sungkan berbagi ilmu selama memang saya tau, tapi tidak pada saat ujian. Saya terus berusaha untuk menanamkan prinsip dalam hati “Saya harus meraih cita-cita suci ini dengan cara yang suci dan tidak menodai nilai-nilai kejujuran”.Semua ini agar nilai-nilai ini kelak betul-betul menjadi nilai yang bernilai. Karena itu saya tidak pernah mengejar target IPK tertentu karena bagi saya, lulus itu sudah cukup yang penting nilai ini bisa dipertanggungjawabkan baik di hadapan manusia terlebih lagi di hadapan sang Pencipta. 


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 komentar:

Posting Komentar