Stop kekerasan pada anak!!

Jumat, 07 Januari 2011

Hari rabu kemarin selepas sholat magrib di salah satu masjid, saya dan teman bergegas keluar dan mencari sandal di teras masjid. Tiba-tiba terdengar suara yang sangat keras dan membuat saya spontan menoleh ke arah timbulnya suara itu. Saat kepala saya menengok ke kanan, alangkah kaget saya yang saat itu masih berdiri tegak di teras masjid ketika melihat seorang bapak yang lewat di depan masjid sambil memukul anak laki-lakinya berulang-ulang. Anak laki-laki itu kira-kira berumur 7-9 tahun. Bapak itu memukuli anaknya berulang-ulang dengan menggunakan telapak sandal karet. Dia memukul berulang-ulang di bagian belakang kepala kemudian ke punggung. Astagfirullah… saya tidak sanggup menyaksikan pemandangan itu dengan spontan menjerit dan menutup muka dengan kedua tangan saya. Anak itu awalnya tampak mencoba tegar dan tidak menangis namun setelah dihantam berulang-ulang oleh ayahnya dia mulai berteriak menangis. Tidak bisa dibayangkan betapa sakit batin anak itu. Saya tidak tau apa alasan bapak itu memukuli anaknya. Namun, bagi saya alasan apapun itu tidak bisa dibenarkan jika sampai harus dipukul separah itu. Sungguh… ini pertama kalinya saya melihat seorang bapak yang tega melakukan kekerasan sedemikian rupa kepada anaknya. Orang-orang yang menyaksikan juga tidak bisa berbuat banyak, ntahlah apa yang ada di pikiran mereka.

Kejadian itu sangat berbekas di dalam ingatan saya. Kok ada ya bapak yang setega itu?. Yang kemudian menjadi pertanyaan saya bagaimana nasib anak itu ketika besar nanti? Bagaimana pertumbuhan mental dan psikologinya kelak? Ahh.. semoga kamu baik-baik saja adik dan tidak menyimpan sedikit pun dendam kepada bapakmu. Saya teringat ayah di rumah, sampai sekarang saya berumur 20 tahun tidak pernah sekalipun beliau memukuli saya. Alhamdulillah Robb..

Anak yang dihukum dengan kekerasan memang akan patuh kepada orangtuanya dalam waktu sementara atau jangka pendek tapi tidak untuk jangka panjang. Mendidik anak emang susah, tapi jangan main fisik dong pak. Tidak bisa dipungkiri emang, kalau banyak faktor yang bisa mendorong si bapak melakukan kekerasan pada anaknya. Mungkin saja dia lagi capek abis pulang kerja dan si anak bandel. Tapi sekali lagi pak.. ini sama sekali nggak bisa dipakai sebagai pembenaran untuk memukuli si anak. Masih banyak cara yang lain untuk menghukum dia tanpa harus merusak fisik dan mentalnya. Bekas luka fisiknya mungkin bisa saja hilang dalam beberapa hari tapi luka batin yang ia rasakan akan berbekas seumur hidupnya.

Anak yang sering dipukul akan sangat mempengaruhi kondisi psikologisnya. Bayangkan saja saya yang hanya melihat kejadian itu merasa geram dan takut nah gimana dengan anak itu yang memang merasakan secara langsung, pasti sangat tersimpan jelas dalam memorinya. Banyak sekali dampak negatif yang bisa terjadi pada si anak jika sering dipukul salah satunya adalah si anak bisa menjadi kurang pandai.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh Murray Strauss dari Universitas New hamphshire, AS menunjukkan bahwa sebagian besar anak yang sering mendapat perlakuan keras dari orangtuanya memiliki tingkat intelegensi (IQ) yang rendah. Bahkan mereka akan mengalami kesulitan untuk mengikuti jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Demikian klikdokter menulis

Dari penelitian itu ditemukan bahwa semakin sering anak mendapat kekerasan, maka pertumbuhan mentalnya juga akan terlambat. Bahkan jika ditinjau dalam ruang lingkup yang lebih luas ditemukan bahwa sebuah Negara yang mempunyai tingkat kekerasan pada anak tinggi maka banyak ditemukan anak yang ber-IQ rendah di Negara tersebut.
Anak yang sering dipukul akan mudah mengalami stress terutama saat menghadapi situasi yang sulit. Proses pendisiplinan yang terlalu keras dapat menghalangi anak untuk berpikir bebas dan berkreasi sehingga ia tidak terlatih untuk mengeluarkan kemampuannya.

Tidak heran, sekarang kita lihat sangat marak di TV aksi kekerasan dimana-mana, sedikit-sedikit tawuran, emosi yang sangat mudah terpancing. Mungkin bisa dilakukan penelitian, bagaimana masa kecil mereka, mungkinkah ada kekerasan yang mereka peroleh saat masih kecil.
Nah bagaimana seharusnya anak dididik?

Menghukum anak sebaiknya dilakukan dengan tidak menggunakan kekerasan, masih banyak cara positif lainnya yang bisa digunakan. Misalnya dengan memotong uang saku, membersihkan kamar mandi, atau tidak bermain dengan teman-temannya.

Dalam penelitian dengan target 36000 anak yang mendapat hukuman fisik di amerika, disimpulkan bahwa hukuman fisik memang memiliki manfaat yaitu anak akan labih patuh tapi hanya dalam waktu singkat atau jangka pendek. Untuk resiko jangka panjang ditemukan bahwa anak bisa tumbuh agresif. Memang si anak kelihatan cenderung pendiam, tapi jangan coba membuatnya marah karena akan sangat agresif. Anak juga bisa jadi sosok yang antisosial bahkan lebih parah anak bisa menderita gangguan jiwa karena terus merasa tertekan.

Menurut Dr.Syafriani Hasan, psikolog lulusan UI, bahwa seorang anak yang beranjak dewasa agar tidak terganggu kehidupan psikologisnya, orang tua harus mencoba untuk tidak memaksakan hukuman fisik kepada anak dengan cara yang kasar. Yang harus dilakukan orang tua ketika mendapati anak yang nakal adalah dengan menasihati dengan tetap menjaga kontak mata

Saat memberikan perintah pada si anak, sebaiknya mengeluarkan kata dengan tenang dan tidak emosional. Setiap anak sebenarnya punya naluri untuk menuruti apa yang diinginkan oleh orangtuanya. Hanya saja kadang cara yang dilakukan oleh orangtua cenderung membuat si anak menjadi tidak hormat kepada orang tuanya.

Setelah memberikan peringatan untuk melakukan pekerjaan yang seharusnya anak lakukan, kemudian dia melakukannya berilah pujian secukupnya karena pujian akan memotivasi anak untuk patuh pada orang tua dan berbuat lebih baik. Jika setelah diberi peringatan anak belum juga melakukannya, maka diamkanlah dulu. Jika setelah didiamkan anak melakukan pekerjaan itu, pujilah dia. Jika dia tidak melakukan, disinilah kita menerapkan hukuman tapi bukan dalam bentuk kekerasan.

Kalau menurut saya pribadi, Sebenarnya ketika orang tua memukul anaknya karena bandel, secara tidak langsung itu merupakan pukulan untuk diri sendiri. Siapa yang mendidik dia selama ini? Orang tua bukan. Anak itu bagai kertas putih dan yang mengisi adalah lingkungannya. Kalau orang tua sejak dini sudah mendidik dengan baik dan menanamkan disiplin pada anaknya, saya yakin meskipun diluar sana ia mendapat sesuatu yang tidak baik ia sudah dapat membedakan ini yang baik dan buruk karena orang tuanya sudah membekali lebih dulu. Yang salah jika,saat anak mendapatkan sesuatu yang tidak baik diluar sana, barulah kemudian orangtua kalang kabut dan sampai pada puncaknya akan melakukan kekerasan.

Terakhir, Bagi anda calon orangtua, Belajar untuk jadi orangtua dari sekarang tidak ada salahnya. Agar kelak tidak ada lagi anak-anak korban kekerasan. Anak-anak adalah penerus bangsa ini, jika jiwa dan mentalnya sudah dirusak sejak dini, mau dibawah kemana dan oleh siapa negeri ini nantinya?


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 komentar:

Posting Komentar