Review Buku Serial Anak-anak Mamak "PUKAT"

Jumat, 26 April 2013


Halo, kesempatan kali ini saya akan mereview sebuah Novel Anak-anak yang sayang sekali kalau  nggak dibaca. Berikut adalah hasil review saya tentang buku ini. Selamat membaca! :)

Buku ini merupakan salah satu dari empat novel serial Anak-Anak Mamak karya Tere Liye. Sebuah novel yang banyak memberikan nilai-nilai moral khususnya tentang kebaikan, kasih-sayang, kejujuran, kekeluargaan dan kesederhanaan yang dibungkus dengan kepolosan, kenakalan, kecerdasan dan keterbatasan anak-anak. Buku ini memuat cerita tentang kisah Mamak dengan  anak-anaknya dimana Pukat menjadi tokoh utama. Ada bagian dari novel ini yang membuat kita tersenyum karena kecerdikan dan kepolosannya serta kagum karena kesederhaan dan rasa ingin tahu  yang begitu tinggi. Adapula bagian dari novel ini yang membuat kita terharu akan cinta kasih seorang ibu. kepada anaknya.

Ia adalah seorang anak umur 9 tahun. Pukat namanya. Ia merupakan anak yang cerdik. Kecerdikannya digunakan ketika suatu hari ia beserta ayah dan adiknya berada di kereta api dalam perjalanan menuju ke rumah pamannya. Ketika kereta yang mereka tumpangi melewati sebuah terowongan gelap, kawanan perampok menjarah barang-barang penumpang. Ditengah suasana gelap nan mencekam itu, pukat menggunakan akal cerdiknya. Saat kawanan perampok itu tepat berada di dekatnya hendak menjarah barang-barang mereka, Pukat dengan sigap menaburkan bubuk kopi ke atas sepatu perampok itu. Saat tiba di stasiun, mereka melaporkan kejadian ini pada polisi. Tentu saja petugas kepolisian dengan mudah menemukan pelaku karena sebelumnya Pukat telah membuat jejak tak terbantahkan pada sepatu perampok itu.

Hari-hari Pukat banyak diisi dengan bermain bersama teman-temannya. Seperti anak desa kebanyakan, mereka senang bermain di alam seperti misalnya berenang di sungai. Ia memiliki seorang teman akrab yang bernama Raju. Mereka berdua sempat bertengkar dan tidak bertegur sapa selama 2 bulan karena sebuah persoalan sepele. Tapi, bukan anak-anak namanya jika berselisih lama-lama. Merekapun berbaikan saat tiba-tiba mereka berdua bersama mengambil makanan yang terhidang di meja pada sebuah pesta.

Nilai kejujuran disampaikan dalam buku ini lewat bab “Kaleng Kejujuran”. Di kantin sekolah ada sebuah kaleng kejujuran yang juga merupakan ide dari seorang Pukat. Jadi, makanan yang ada di kantin dijual tanpa penjaga, jika mau membeli uangnya diimasukkan sendiri dalam kaleng itu. lewat  kaleng kejujuran ini, Pukat dan teman-temannya belajar untuk berlaku jujur. Rasa ingin tau yang tinggi, juga dimiliki oleh Pukat  yang membuatnya bertanya banyak hal. Termasuk sangat penasaran dengan sebuah teka teki yang diberikan oleh Wak Yati, “Apa harta karun di kampung kita ini pukat?”. Sudah banyak jawaban dilontarkan Pukat tapi tak satupun  yang benar. Bertahun-tahun ia mencari jawabannya tapi tak kunjung ketemu.

Cerita yang paling berkesan dalam buku ini adalah ketika suatu hari Pukat melanggar larangan Mamaknya untuk tidak pulang lebih awal dari ladang. Hal ini menyebabkan Pukat dihukum oleh Mamak tidak makan malam dan disuruh tidur di teras rumah. Mamak sangat tegas dan disiplin pada Pukat. Hukuman ini membuat Pukat sangat marah dan benci pada Mamaknya. Efek dari hukuman ini, Pukat jatuh sakit dan demam berhari-berhari. Saat sakit ini, Mamak menunggui pukat berhari-hari bahkan sampai begadang mencemaskan kesehatan Pukat. Hal ini membuat pukat sadar bahwa sesungguhnya Mamak sangat menyayangi dirinya.

Dan benar kata Bapaknya bahwa 
Jangan pernah membenci Mamak kau, jangan sekali-kali, karena jika kau tau sedikit saja apa yang telah ia lakukan demi kau, Amelia, Burlian dan Ayuk Eli, maka kau tau sejatinya bahkan belum sepersepuluh dari pengorbanan, rasa cinta. serta rasa sayangnya kepada kalian

Sosok Mamak dalam buku ini sangat disiplin dan tegas, namun penuh kasih sayang. Hanya saja terkadang, Pukat dan saudara-saudaranya menyalahartikan sikap tegas Mamak dengan menganggap bahwa Mamak membenci mereka. Seperti misalnya saat pagi hari sebelum berangkat sekolah, Mamak akan memaksa mereka menghabiskan nasi meskipun lauknya hanya kecap asin. Belakangan mereka baru paham betapa berartinya setiap bulir nasi setelah mereka di ajak oleh Mamak membuka lahan dan menanam padi. Mamak juga sosok yang sangat anti terhadap perbuatan gibah atau membicarakan kejelekan orang lain. Mulut orang yang membicarakan kejelekan orang lain diumpamakan sebagai pipa pembuangan terkotor seperti yang diceritakan di bab 19 dan 20. Meskipun dibesarkan dalam kesederhanaan, keterbatasan, berbaur dengan kepolosan dan kenakalan., Mamak selalu menanamkan arti kerja keras, kejujuran, harga diri serta perangai tidak tercela. Dan di sini, kasih saying keluarga adalah segalanya. 

Di akhir cerita, 14 tahun kemudian, Pukat yang mendapat kesempatan belajar di Negara Kincir Angin menyempatkan diri untuk pulang ke kampung halamannya. Belajar di Luar Negeri adalah cita-citanya sejak kecil. Saat pulang itu pula ia  tau jawaban dari teka-teka Wak Yati bahwa sesungguhnya harta karun paling berharga di kampungnya adalah mereka anak-anak kampong itu. Anak-anak yang dibesarkan oleh kebijaksanaan alam, dididik langsung oleh kesederhanaan kampung. 

Buku ini membuat kita terlarut dalam dunia anak-anak yang terkadang tidak pernah terbayangkan oleh kita. Gaya bahasa Tere Liye yang selalu mengena, menasehati secara halus tanpa menggurui tertuang dalam setiap bukunya termasuk yang satu ini. Hanya saja beberapa kalimat menggunakan bahasa melayu sehingga terkadang sulit dicerna. Namun, di atas semua itu, buku ini sangat layak dibaca khususnya anak-anak. Buku ini layak banget idkoleksi sebagai bacaan keluarga. 

Judul buku    : Pukat “Serial Anak-anak Mamak”
Pengarang     : Tere Liye
Penerbit         : Republika
Terbit             : Maret 2010
Tebal              : vi + 351 halaman


Free Template Blogger collection template Hot Deals SEO

0 komentar:

Posting Komentar